RSS

Pupuk Organik Berbasis Mikroba Lokal

25 Feb

Kubis Pupuk organik

Untuk membantu petani mengolah dan memproduksi pupuk organik secara mandiri, peneliti LIPI mengembangkan teknologi Beyonic berbasis mikroba lokal.

Teknik ini akan meminimalisasi penggunaan senyawa kimia sintetis sehingga kualitas lahan tetap terjaga.
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengembangkan teknologi Beyonic, yakni teknologi berbasis mikroba lokal pada pupuk organik.
Teknologi ini merupakan salah satu jalan keluar untuk mengatasi penurunan kualitas lahan akibat penggunaan pupuk sintetis dan pestisida kimia.
Selama ini, untuk meningkatkan produksi pertanian, pupuk sintesis dan pestisida kimia digunakan sebagai komponen utama.

Namun, penggunaan dua komponen tersebut bukanlah tanpa masalah. Pasalnya, penggunaan pestisida kimia secara berlebihan, misalnya, bisa membuat kualitas tanah beserta ekosistemnya menurun.

Pangkal persoalannya tentu karena kandungan kimia yang terkandung pada penyubur tanah dan tanaman tersebut.

Pusat Penelitian Biologi LIPI sudah meneliti persoalan tersebut. Hasilnya, penggunaan pestisida sintetis secara berlebihan menyebabkan punahnya beberapa serangga penyerbuk tanaman sehingga produksi pertanian tidak optimal.

Sebenarnya hal itu bisa disiasati dengan menggunakan pupuk dan pestisida sintetis. Tetapi ongkos penggunaan kedua medium tersebut cukup mahal. Ongkos produksi yang dikeluarkan petani tidak sebanding dengan hasil yang didapatkan.

Selain itu, tanah di sawah menjadi kering akibat penggunaan pupuk sintetis yang digunakan secara berlebihan.

Becermin dari persoalan tersebut, LIPI mengembangkan teknologi Beyonic menggunakan mikroba guna membantu peningkatan ka pasitas produksi petani serta men jaga kelestarian lahan.

Penelitian ini melibatkan sebelas peneliti, yakni I Made Sudiana, Arwan Sugiharto, Sri Widawati, Suliasih, YB Subowo, Heddy Julistiono, Maman Rahmansyah, Dyah Supriyati, Yuliar, Harmastini, dan Iwan Sakiawan.

Dalam penelitian tersebut, digunakan mikroba lokal yang dijamin keamanan serta kemurniannya dan dipelihara oleh Biotechnology Culture Collection yang telah terdaftar di WFCC (World Federation for Culture Collection).

“Fungsi mikroba lokal yang digunakan membantu pertumbuhan tanaman dan kesehatan ekosistem,” ujar Koordinator Penelitian Ekologi Mikroba LIPI Sudiana. Mikroba itu juga berfungsi melarutkan unsur hara makro dan mikro tanah.

Sudiana menambahkan mikroba lokal atau disebut mikroba indigenous ini merupakan mikroba yang sudah hidup ratusan tahun dalam ekosistem Indonesia, yang beradaptasi dengan baik terhadap ekosistemnya.

Untuk mikroba pupuk hayati, sebelas peneliti tersebut sepakat menggunakan mikroba lokal karena tidak menyebabkan kerusakan ekosistem lokal.

Itulah yang menjadi alasan peneliti tidak menggunakan mikroba dari luar negeri. Dikhawatirkan mikroba asing dapat merusak ekosistem lokal lantaran karakter fisiologisnya berbeda dengan mikroba lokal.

Lebih lanjut, Sudiana menjelaskan Beyonic merupakan teknologi berbasis pemanfaatan mikroorganisme (mikroba) untuk meningkatkan produksi pertanian, memulihkan ekosistem akibat eksploitasi alam (pertambangan), menurunkan toksitas limbah beracun, dan meningkatkan kesehatan tanaman.

Beyonic merupakan singkatan dari beyond bio-organic, yakni teknologi yang menjadikan pupuk organik sebagai pupuk penyubur tanaman sekaligus menjadi pupuk yang bisa dimanfaatkan untuk memulihkan kualitas lahan bekas penggalian tambang. Alat yang diperlukan di antaranya peralatan pengayaan mikroorganisme lokal.

Produksi Meningkat Teknik yang digunakan dalam teknologi ini ialah memperbanyak mikroba lokal sehingga bisa diimbuhkan pada pupuk organik.

Jenisnya antara lain mikroba pelarut fosfat untuk membantu kelarutan posta organik dan fosfat yang tidak mudah larut, dan mikroba penambat nitrogen, yakni mikroba yang mampu menambat nitrogen bebas.

Di samping itu, ada mikroba penghasil hormon pertumbuhan dan mikroba penghasil metabolit sekunder yang menghambat pertumbuhan penyakit tanaman.

Juga mikroba pemicu produksi unsur besi serta mikroba yang mampu melakukan biotransformasi logam berat sehingga menurunkan toksisitas (racun) pada lahan.

Teknologi yang digunakan dalam memperbanyak mikroba ini adalah fermentor dan teknologi inokulasi mikroba.

Mikroba lokal merupakan mikroba yang telah diketahui validitas jenisnya dan disimpan di dalam kultur koleksi, seperti Azospirillum, Azotobacter, Rhizobium, Mikroriza, dan mikroba tanah yang menghasilkan senyawa metabolit sekunder untuk kesehatan tanaman, semisal Bacillus. Mikroba itu diproduksi menggunakan medium khusus sesuai dengan karakter fisiologinya.

Hasil uji laboratorium dalam penelitian ini dilakukan dengan beberapa cara, di antaranya mengidentifikasi mikroba yang nantinya diimbuhkan ke pupuk hayati.

Setelah tahapan idetifikasi, peneliti menguji mikroba tersebut sesuai dengan karakteristik mikroba dan kandungan hara pada lahan tertentu.

Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui apakah mikroba tersebut berdampak negatif terhadap pertumbuhan mikroba yang menguntungkan kesuburan tanah pada lahan.

Pengujian laboratorium yang dilakukan meliputi uji kemampuan melarutkan fosfat inorganik terikat seperti kalsium fosfat dan aluminium fosfat.

Lainnya adalah uji kemampuan mikroba menghasilkan enzim fosfatase asam dan basa, mengoksidasi gas metan, ensim proteolitik, khitinolitik dan ligolitik.

Serta kemampuan mikroba hidup pada suhu, pH, dan salinitas, juga uji kemampuan menekan pertumbuhan penyakit tanaman yang disebabkan oleh jamur seperti Fusarium.

LIPI berharap penggunaan teknologi ini bisa membantu petani sehingga dapat mengolah dan memproduksi pupuk organik dengan mandiri.

Jika sudah digunakan petani, teknik ini akan meminimalisasi penggunaan senyawa kimia sintetis sehingga kualitas lahan petani tetap terjaga. Ujung-ujungnya, kapasitas produksi lahan petani bisa meningkat dua kali lipat.

“Rencananya LIPI akan memproduksi pupuk organik ini bekerja sama dengan swasta atau koperasi,” beber peraih doktor teknik Lingkungan dari University of Tokyo, Jepang, itu.
vic/L-3

 

sumber : Koran-jakarta.com

 
4 Komentar

Ditulis oleh pada Februari 25, 2011 in ARTIKEL, Peluang usaha pertanian, Uncategorized

 

Tag: , , , , , , ,

4 responses to “Pupuk Organik Berbasis Mikroba Lokal

  1. Idi suwardi

    Februari 25, 2011 at 3:14 am

    artikelnya bagus, informasi yang di berikan sangat bermanfaat. Membaca di blog ini menambah inspirasi dan pengetahuan…mantap deh hehehe

     
    • agenpupukorganik

      Maret 3, 2011 at 4:44 am

      Thxs Bung Idi telah Kunjungi Blog saya dan Komentnya.. Success !

       
  2. Idi suwardi

    Maret 4, 2011 at 3:56 pm

    Selamat malam🙂 blokwalking nih

     
  3. kembanglangit1

    April 8, 2011 at 4:42 am

    Smoga kita dapat bersinergi untuk mewujudkan pertanian organik,Bapak Pupuk nya dari bawah dan kami di pestisida organiknya,sehingga “mimpi “kita kearah pertanian organik segera terwujud….

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: